Lidiknusantara.com, Tanjungpinang – Menurunnya pengawasan kualitas produk pangan di ritel modern kembali memicu keluhan masyarakat. Seorang warga di Kota Tanjungpinang mengaku sangat kecewa setelah mendapati satu papan telur ayam yang baru dibelinya di Swalayan Mahkota, kawasan Ruko Pujasera Bintan Center (Blok A No. 2-4), dalam kondisi busuk dan tidak layak konsumsi.
Peristiwa tidak menyenangkan ini terungkap setelah konsumen tersebut membeli satu papan telur ayam nomor 2 berisi 30 butir dengan harga Rp56.000.
Menurut sumber yang dihimpun, awalnya tidak ada kejanggalan saat proses transaksi berlangsung di kasir swalayan. Namun, kecurigaan mulai muncul ketika konsumen berada di dalam mobil perjalanan pulang dan sesampainya di rumah. Aroma tidak sedap menyengat hidung, hingga akhirnya memaksa konsumen untuk memeriksa barang belanjaannya tersebut.
“Awalnya saya beli satu papan telur nomor 2 seharga Rp56.000 dan kebutuhan lainnya. Pas di dalam mobil dan sampai di rumah ternyata ada beberapa butir telur yang busuk,” ujar konsumen tersebut kepada media, Kamis (2/7/2026).
Kondisi produk peternakan yang dijual swalayan tersebut dinilai sudah sangat parah dan membahayakan kesehatan. Saat cangkang telur dipecahkan, isi di dalamnya mengeluarkan bau busuk yang tajam. Lebih mengejutkan lagi, konsumen bahkan menemukan belatung yang hidup di wadah (tatakan) papan telur tersebut.
“Jadi ada beberapa telur yang busuk, bahkan sudah ada belatungnya. Tentu saya sangat kecewa karena telur itu baru saja dibeli,” tegasnya dengan nada kesal.
Ia menekankan bahwa sebagai pelaku usaha besar, pihak swalayan wajib memastikan setiap produk pangan yang dipajang telah melalui proses quality control (pemeriksaan kualitas) yang ketat. Menurutnya, pelaku usaha jangan hanya mengejar keuntungan semata tanpa memedulikan kelayakan konsumsi barang yang dijual kepada masyarakat.
Konsumen tersebut mendesak manajemen Swalayan Mahkota untuk lebih teliti dan rutin melakukan pengecekan stok barang (stock opname), terutama untuk komoditas yang mudah rusak (perishable goods) seperti telur dan daging. Langkah ini penting agar kerugian materi dan ancaman kesehatan serupa tidak menimpa konsumen lainnya di kemudian hari.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen Swalayan Mahkota belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan kelayakan pangan tersebut. Redaksi masih terus berupaya menghubungi pihak pengelola swalayan guna meminta konfirmasi dan klarifikasi lebih lanjut atas dugaan kelalaian ini. (rais/tim)













Discussion about this post