Lidiknusantara.com, Edukasi – Ada kalanya kita kesulitan untuk berhenti menggulir (scrolling) media sosial, terutama saat mengonsumsi deretan berita buruk.
Kenapa hal itu bisa terjadi? Untuk mengetahui alasannya, terlebih dahulu kita perlu mengenal tentang doomscrolling.
Doomscrolling adalah kebiasaan menggulir lini masa media sosial secara terus-menerus untuk mencari dan membaca informasi yang buruk, menyedihkan, atau bahkan membuat cemas.
Di era digital saat ini, arus informasi bergerak sangat cepat dan sebagian besarnya tidak disaring. Dampaknya, banyak konten atau berita buruk yang berseliweran di lini masa media sosial kita.
Berkat itu, tanpa sadar kita menjadi terbiasa mengonsumsi konten atau berita buruk secara berlebihan. Jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat memicu lonjakan kecemasan yang dapat mengganggu stabilitas emosi.
Mengapa Otak Mudah Ketagihan Berita Buruk?
Kecenderungan untuk terus mengonsumsi informasi negatif sebenarnya berakar pada cara kerja otak manusia.
Secara psikologis, manusia mempunyai insting bawaan yang disebut bias negatif (negativity bias). Otak kita dirancang untuk lebih peka terhadap ancaman atau potensi bahaya di lingkungan sekitar sebagai mekanisme pertahanan diri.
Masalahnya, di dunia digital, ancaman tersebut tidak lagi dalam bentuk fisik. Ancaman kini hadir dalam deretan teks dan video di layar gawai kita, yang tersebar secara masif di media sosial.
Algoritma media sosial membaca ketertarikan ini sehingga terus menyajikan konten serupa ancaman, yang pada akhirnya menahan perhatian kita berjam-jam.
Dengan begitu, kita merasa harus terus menginsumsi berita buruk itu untuk berjaga-jaga dari bahaya. Padahal, informasi tersebut justru dapat memperburuk psikologis kita.
Dampak Doomscrolling Terhadap Kesehatan Mental
Fenomena doomscrolling berdampak besar bagi kesehatan fisik dan mental kita. Saat kita mengonsumsi berita buruk, sistem saraf tubuh dipaksa berada dalam kondisi waspada. Kondisi ini dapat memicu produksi hormon stres seperti kortisol.
Dampak jangka pendek dari doomscrolling meliputi jantung berdebar, perasaan gelisah yang tidak berdasar, hingga kesulitan berkonsentrasi pada pekerjaan utama.
Namun, jika dilakukan secara terus-menerus, kebiasaan ini dapat menimbulkan insomnia atau gangguan tidur kronis.
Tanda Kita Terjebak Doomscrolling
Berikut ini tanda-tanda bahwa kita telah terjebak doomscrolling:
-
Menghabiskan waktu jauh lebih lama di media sosial dari yang direncanakan.
-
Merasa cemas, marah, atau sedih setelah membaca berita, tetapi jari tak bisa berhenti menggulir layar.
-
Menjadikan media sosial sebagai pelarian pertama saat bangun tidur dan aktivitas terakhir sebelum memejamkan mata.
Untuk terlepas dari fenomena merugikan ini, kuncinya adalah kesadaran. Cara efektif yang bisa kita lakukan untuk menghentikan kebiasaan doomscrolling adalah dengan mempraktikkan digital detox di malam hari. (*)













Discussion about this post