Tanjungpinang, Lidiknusantara.com – Penulis asal Kepulauan Riau, Rajabbul Amin, menggelar bedah buku karyanya berjudul Kala Laut Bercerita, Pulau Mendengar: Jalinan Makna dalam Komunikasi Budaya di Bumi Segantang Lada. Bedah buku ini bertempat di Museum Sultan Sulaiman Badrulalamsyah, Kota Tanjungpinang, pada Kamis (8/1/2026).
Buku Kala Laut Bercerita, Pulau Mendengar terbitan Deepublish tahun 2025 berisi tentang Sosial Budaya dan Komunikasi masyarakat Kepulauan Riau. Mulai dari gaya hidup masyarakat pesisir, cara mereka berkomunikasi, hingga keunikan masyarakat Melayu yang cenderung menyelesaikan semua masalah di warung kopi.
Rajabbul Amin menyebut buku ini lahir karena kegelisahannya sebagai mahasiswa perantau, karena masyarakat luar daerah masih belum terlalu mengenal tentang Kepulauan Riau.
“Selain itu, buku ini lahir karena kerisauan saya atas budaya yang mulai dilupakan oleh para generasi muda, terutama di era digital sekarang ini. Buku ini ditulis agar budaya Melayu dapat kembali dikenal masyarakat luas, terutama para generasi muda,” terangnya.
Bedah buku Kala Laut Bercerita, Pulau Mendengar ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Asisten I Pemerintahan dan Kesra Kota Tanjungpinang, H. Thamrin Dahlan, M.Si., dan Dosen Ilmu Pemerintahan STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang, Dr. Dra. Nurbaiti Usman Siam, M.Si.
Nurbaiti Usman Siam membedah buku ini bab per bab. Secara keseluruhan, ia menilai buku Kala Laut Bercerita, Pulau Mendengar sudah bagus, apalagi ditulis oleh anak muda yang penuh semangat mencurahkan ide-idenya.
“Abul sudah mencoba untuk memaknai komunikasi budaya Melayu dalam buku ini. Tapi buku ini masih belum sempurna. Penulis perlu melakukan riset lebih dalam. Saran saya, perbanyak baca buku-buku yang berkaitan dengan pantun, adab dan adat dalam pergaulan, juga permainan rakyat,” terangnya.
Sementara itu, Thamrin Dahlan lebih fokus menyoroti tentang teknik penulisan pantun yang dinilai masih ditulis dengan sedikit tergesa.
“Pantun yang bagus adalah pantun yang sampirannya juga sudah memiliki makna. Namun Rajabbul masih agak tergesa-gesa dalam menulisnya,” terangnya.
Thamrin juga menyoroti tentang cara bertutur masyarakat Melayu hingga adat Melayu seperti mandi safar dan tepuk tepung tawar. Menurutnya, penulis perlu menjabarkannya lebih dalam lagi agar kekayaan dalam buku ini lebih bertambah.
Di akhir pemaparannya, Thamrin menyebut bahwa buku Kala Laut Bercerita, Pulau Mendengar telah menyelamatkan literasi melayu di era kepenulisan yang hampir terabaikan.
“Bertambah satu lagi literasi kemelayuan di abad ini dengan terbitnya buku Kala Laut Bercerita, Pulau Mendengar. Kelebihan Rajabbul Amin dalam penulisan buku ini adalah bahasa puitis yang menggelitik yang dipaparkan secara ilmiah,” ujarnya.
Bedah buku ini dihadiri oleh budayawan, penulis, perwakilan dari berbagai instansi, hingga mahasiswa. Acara diakhiri dengan penyerahan tiga eksemplar buku kepada Perpustakaan Kota Tanjungpinang dan museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah.
Seusai acara, Rajabbul mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu menyukseskan bedah buku ini.
“Buku ini masih memiliki kekurangan, baik dari sisi riset, jangkauan wilayah, maupun kedalaman data. Meski begitu, saya berharap buku ini bisa menjadi jendela kecil untuk mengenalkan Provinsi Kepulauan Riau dengan segala kekayaan budaya, tutur, dan jiwanya,” tutupnya. (Adnan)














Discussion about this post