Yogyakarta, Lidiknusantara.com – Across Species Project Indonesia (ASPI) merilis laporan kajian awal yang mengungkap perbedaan tajam antara sistem kandang baterai dan sistem bebas sangkar pada peternakan itik petelur.
Hasilnya menunjukkan bahwa efisiensi produksi pada kandang baterai dibayar mahal dengan penurunan serius pada kesejahteraan itik dan potensi risiko pada kualitas telur.
Kajian yang dilakukan di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Blitar, Jawa Timur, mencatat itik dalam kandang baterai hidup di ruang sempit bersekat, hanya cukup untuk satu hingga dua ekor, dengan ruang gerak nyaris selebar sebuah tablet. Kondisi ini membatasi itik untuk bergerak, mengepakkan sayap, atau mengekspresikan perilaku alaminya.
ASPI menilai kesejahteraan itik dari kondisi fisik, perilaku, manajemen pemeliharaan, hingga kualitas telur. Temuannya menunjukkan itik di kandang baterai jauh lebih sering mengalami kerontokan bulu parah, luka, bulu kotor, gangguan pada mata dan hidung, serta cedera kaki. Sebaliknya, itik dalam sistem bebas sangkar menunjukkan kondisi fisik yang lebih baik dan perilaku yang lebih normal.
Perbedaan paling mencolok muncul pada perilaku stres. ASPI mencatat perilaku stereotipik (gerakan berulang tanpa tujuan yang menandakan stres kronis) muncul pada 78 persen itik di kandang baterai. Pada sistem bebas sangkar, angka ini hanya 2,7 persen.
“Pembatasan ruang gerak dan lingkungan yang miskin stimulasi memicu stres jangka panjang. Sistem kandang baterai gagal memenuhi kebutuhan dasar kesejahteraan itik,” kata Nuril Qolbi, Field Research and Animal Welfare Officer ASPI.
ASPI juga menemukan kuku kaki itik di kandang baterai tumbuh sangat panjang dan tajam karena tidak ada permukaan yang memungkinkan pengikisan alami. Kondisi ini meningkatkan risiko luka dan infeksi.
Dari sisi produksi, kandang baterai memang menghasilkan telur lebih banyak. Namun, produktivitas tinggi itu disertai biaya operasional yang juga tinggi dan tidak otomatis menghasilkan telur yang lebih berkualitas. ASPI justru menemukan telur dari sistem bebas sangkar memiliki cangkang lebih tebal.
“Cangkang yang lebih tebal menurunkan risiko kontaminasi bakteri. Ini berpotensi lebih aman bagi kesehatan konsumen, meski perlu penelitian lanjutan,” jelas Nuril.
ASPI menilai tren penggunaan kandang baterai di Indonesia bergerak berlawanan dengan arah global. Sejumlah negara, termasuk Taiwan, telah melarang sistem ini karena dampaknya terhadap kesejahteraan hewan.
Dalam sistem bebas sangkar, peternak masih dapat meningkatkan kesejahteraan itik melalui perbaikan manajemen, seperti penggunaan litter untuk menyerap kotoran dan menekan kadar amonia.
Pada kandang baterai, upaya perbaikan kualitas udara dan air tidak menyentuh masalah utama, yaitu keterbatasan ruang dan hilangnya perilaku alami itik.
Di sisi lain, permintaan pasar terhadap telur bebas sangkar terus meningkat. Banyak perusahaan kini hanya menerima pasokan telur yang memenuhi prinsip kesejahteraan hewan. Tren ini menunjukkan perubahan kesadaran konsumen menuju produk yang lebih etis.
ASPI menegaskan perlunya kolaborasi pemerintah, perusahaan, peternak, dan konsumen untuk mendorong sistem produksi telur yang lebih berkelanjutan dan manusiawi.
Laporan ini menjadi peringatan bahwa mengejar efisiensi tanpa memperhatikan kesejahteraan hewan membawa konsekuensi yang tidak bisa diabaikan. (Red)














Discussion about this post